Cara Membaca Hasil Kalendering Tiang Pancang

Cara Membaca Hasil Kalendering Tiang Pancang

Dalam dunia konstruksi, khususnya pembangunan fondasi, kalendering tiang pancang menjadi salah satu metode penting untuk memastikan kekuatan dan stabilitas struktur. Proses ini digunakan untuk mengetahui daya dukung tanah secara empiris melalui pengukuran penurunan tiang saat dipukul oleh alat pancang, seperti diesel hammer atau hydraulic hammer.

Namun, hasil kalendering tidak akan berguna jika Anda tidak tahu cara membacanya dengan benar.

Artikel ini akan menjelaskan langkah demi langkah cara membaca hasil kalendering tiang pancang agar Anda bisa memahami data yang diperoleh dan menerapkannya dalam proyek konstruksi.

Apa Itu Kalendering Tiang Pancang?

Kalendering adalah metode pengujian yang dilakukan saat proses pemancangan tiang pancang, baik yang terbuat dari beton maupun pipa baja. Tujuannya adalah untuk mengukur penurunan tiang pancang (set) dan rebound (pantulan) selama 10 pukulan terakhir pemancangan.

Data ini kemudian digunakan untuk menghitung daya dukung tanah dalam satuan ton. Proses ini biasanya dilakukan ketika tiang sudah mendekati kedalaman target atau saat penurunan tiang mulai stabil, misalnya ketika penurunan hanya mencapai 2-3 cm untuk 10 pukulan terakhir.

Kalendering tidak hanya memberikan gambaran tentang kekuatan tanah, tetapi juga menjadi syarat wajib dalam banyak proyek konstruksi untuk memastikan fondasi memenuhi standar teknis.

Data yang dihasilkan berupa grafik yang mencatat pergerakan tiang setiap kali dipukul, yang kemudian dianalisis menggunakan rumus dinamis seperti rumus Hiley, WIKA, atau Danish.

Alat dan Prosedur Pelaksanaan Kalendering

Sebelum membaca hasil kalendering, penting untuk memahami bagaimana data ini dihasilkan. Prosedur kalendering dilakukan dengan alat sederhana, seperti:

  • Kertas milimeter: Untuk mencatat pergerakan tiang.
  • Spidol atau pulpen: Digunakan untuk menggambar grafik penurunan tiang.
  • Selotip: Untuk menempelkan kertas milimeter pada tiang.
  • Balok kayu pengarah: Menjaga spidol tetap stabil saat mencatat.
  • Counter: Untuk menghitung jumlah pukulan.

Prosedur pelaksanaannya meliputi:

  1. Pemancangan dihentikan sementara saat tiang mendekati kedalaman target.
  2. Kertas milimeter ditempelkan pada tiang pancang menggunakan selotip.
  3. Spidol diletakkan pada balok kayu pengarah, dengan ujung spidol menyentuh kertas milimeter.
  4. Pemancangan dilanjutkan, dan spidol akan mencatat pergerakan tiang untuk setiap pukulan (biasanya 10 pukulan terakhir).
  5. Setelah selesai, kertas milimeter dilepas dan grafiknya diperiksa untuk memastikan kejelasan data.

Penting untuk menjaga kertas tetap bersih dari oli, terutama jika menggunakan diesel hammer, agar grafik yang dihasilkan akurat dan mudah dibaca.

Cara Membaca Hasil Kalendering

Cara Membaca Hasil Kalendering Tiang Pancang

Hasil kalendering biasanya berupa grafik pada kertas milimeter yang menunjukkan penurunan tiang (set) dan rebound (pantulan) untuk setiap pukulan. Berikut adalah langkah-langkah untuk membaca hasilnya:

1. Memahami Grafik Kalendering

Grafik kalendering menunjukkan garis-garis yang mencerminkan pergerakan tiang setiap kali dipukul. Setiap garis mewakili satu pukulan, dan jarak antar garis menunjukkan besarnya penurunan tiang (set). Selain itu, lebar garis dapat menunjukkan rebound, yaitu pantulan tiang setelah dipukul.

  • Penurunan (Set): Jarak rata-rata penurunan tiang untuk 10 pukulan terakhir. Misalnya, jika total penurunan 2 cm untuk 10 pukulan, maka set per pukulan adalah 2 cm ÷ 10 = 0,2 cm.
  • Rebound (K): Rata-rata pantulan tiang setelah dipukul, yang diukur dari lebar garis pada grafik. Misalnya, jika rata-rata rebound adalah 0,9 cm, nilai ini akan digunakan dalam perhitungan.

2. Menghitung Daya Dukung dengan Rumus Hiley

Rumus Hiley adalah salah satu rumus dinamis yang sering digunakan untuk menghitung daya dukung tiang pancang berdasarkan hasil kalendering. Rumus ini mempertimbangkan beberapa parameter, seperti:

  • Berat hammer (W): Berat alat pemukul, misalnya 3,5 ton.
  • Tinggi jatuh hammer (H): Jarak jatuh hammer, misalnya 70 cm.
  • Penurunan per pukulan (S): Diambil dari grafik, misalnya 0,2 cm.
  • Rebound (K): Rata-rata pantulan, misalnya 0,9 cm.
  • Berat tiang pancang (P): Berat tiang berdasarkan dimensi dan berat jenis material.
  • Efisiensi hammer (η): Nilai efisiensi alat pancang, biasanya 0,75-1,0 tergantung jenis hammer.

Rumus Hiley adalah sebagai berikut:

Qu = (η * W * H) / (S + K/2)

Di mana:

  • Qu: Daya dukung ultimit (ton).
  • η: Efisiensi hammer.
  • W: Berat hammer (ton).
  • H: Tinggi jatuh hammer (cm).
  • S: Penurunan per pukulan (cm).
  • K: Rebound (cm).

Setelah Qu dihitung, daya dukung ijin (Qijin) diperoleh dengan membagi Qu dengan faktor keamanan (SF), biasanya 2-3, tergantung spesifikasi proyek:

Qijin = Qu / SF

3. Memeriksa Syarat Penurunan

Hasil kalendering dianggap memenuhi syarat jika penurunan tiang untuk 10 pukulan terakhir tidak melebihi 2,5 cm.

Jika penurunan lebih besar, pemancangan harus dilanjutkan hingga mencapai nilai yang ditentukan, dan kalendering diulang untuk memastikan data akurat.

4. Membandingkan dengan Spesifikasi Proyek

Hasil perhitungan daya dukung harus dibandingkan dengan daya dukung yang disyaratkan dalam desain proyek.

Misalnya, jika proyek mensyaratkan daya dukung ijin 100 ton, maka Qijin dari perhitungan harus memenuhi atau melebihi nilai ini.

Jika tidak, mungkin diperlukan penyesuaian, seperti memperpanjang kedalaman tiang atau menggunakan tiang dengan dimensi berbeda.

Faktor yang Mempengaruhi Keakuratan Hasil Kalendering

Beberapa faktor dapat memengaruhi keakuratan hasil kalendering, antara lain:

  • Kondisi peralatan: Hammer yang tidak terkalibrasi atau kertas milimeter yang kotor dapat menghasilkan data yang kurang valid.
  • Kondisi tanah: Variasi kepadatan tanah dapat memengaruhi penurunan dan rebound tiang.
  • Pelaksanaan teknis: Kesalahan dalam pemasangan kertas atau spidol dapat menyebabkan grafik tidak akurat.
  • Jenis hammer: Efisiensi diesel hammer dan hydraulic hammer berbeda, sehingga perlu diperhitungkan dalam rumus.

Untuk memastikan hasil yang akurat, kalendering sering dilengkapi dengan pengujian lain, seperti Pile Driving Analyzer (PDA), untuk memverifikasi daya dukung.

Contoh Perhitungan Sederhana

Misalnya, sebuah proyek menggunakan tiang pancang beton berukuran 25×25 cm dengan kedalaman 22 m dan berat jenis beton 2,4 ton/m³. Data kalendering menunjukkan penurunan 2 cm untuk 10 pukulan (S = 0,2 cm) dan rebound rata-rata 0,9 cm. Hammer yang digunakan adalah diesel hammer dengan berat 3,5 ton, tinggi jatuh 70 cm, dan efisiensi 0,85.

Perhitungan daya dukung menggunakan rumus Hiley:

Qu = (0,85 * 3,5 * 70) / (0,2 + 0,9/2)
   = 208,25 / (0,2 + 0,45)
   = 208,25 / 0,65
   ≈ 320,38 ton

Jika faktor keamanan adalah 2,5, maka:

Qijin = 320,38 / 2,5 ≈ 128,15 ton

Hasil ini menunjukkan bahwa tiang memiliki daya dukung ijin sebesar 128,15 ton, yang kemudian dibandingkan dengan kebutuhan proyek.

Kesimpulan

Membaca hasil kalendering tiang pancang adalah langkah penting untuk memastikan fondasi bangunan kokoh dan aman.

Dengan memahami grafik kalendering, menghitung daya dukung menggunakan rumus yang sesuai, dan memeriksa kesesuaian dengan spesifikasi proyek, Anda dapat menjamin kualitas fondasi.

Proses ini memang sederhana, tetapi membutuhkan ketelitian untuk menghasilkan data yang akurat.

Dengan pemahaman yang baik tentang cara membaca hasil kalendering, Anda dapat membuat keputusan yang tepat dalam pelaksanaan proyek konstruksi.

Jasa Pancang Mini Pile Terpercaya

Untuk kebutuhan pemancangan tiang pancang yang handal dan profesional, percayakan pada Jasapancangminipile.com. Kami menawarkan jasa pemancangan mini pile dengan peralatan modern dan tim berpengalaman untuk memastikan fondasi bangunan Anda kuat dan tahan lama. Hubungi kami sekarang untuk konsultasi gratis dan solusi terbaik untuk proyek konstruksi Anda!

Scroll to Top